Profile

       Liem Keng, pelukis beraliran sketsa merupakan salah satu legenda seniman yang dimiliki Indonesia yang berasal dari Surabaya. Aliran sketsa yang dianut oleh mendiang merupakan aliran yang tergolong langka, karena hanya sedikit pelukis di Indonesia ini yang beraliran sketsa. Sketsa dalam arti umum adalah desain awal sebelum menjadi desain akhir/lukisan yang belum jadi, sedangkan lukisan sketsa adalah lukisan yang sudah selesai sebagai lukisan.

       Dalam kesehariannya, mendiang Liem Keng dikenal sebagai sosok yang sederhana. Mendiang adalah seorang vegetarian. Sehari - hari kehidupannya, mendiang menghabiskan waktunya menjaga toko peracangan sekaligus rumahnya yang terletak di jalan Undaan Kulon. Di sebuah ruangan di lantai dua yang berfungsi sebagai studio tempat mendiang menyelesaikan dan menyimpan karya - karya lukisannya. Dari Senin hingga Sabtu, mendiang menjaga toko peracangannya tersebut, sedangkan hari Minggu dipakainya untuk mengembara ke berbagai tempat untuk mencari objek lukisan sketsanya. Objek lukisan mendiang Liem Keng kebanyakan tentang keseharian dari masyarakat jelata, seperti pasar, kemacetan lalu lintas, seni tradisi. Adapun objek yang lain yaitu bangunan kuno dan binatang yang dalam hal ini adalah binatang sapi yang menjadi binatang favoritnya. Sapi dipandangnya memiliki keindahan fisik dan besar jasanya bagi manusia. Proses melukis dilakukan pada tempat itu juga dimana objek lukisan tersebut berada, karena menurutnya mood yang dihasilkan lebih terasa. Walaupun tempat tersebut terkadang ramai, hal ini tidak menggangu dalam menyelesaikan lukisan, malah membuat lukisan yang dihasilkan lebih hidup.

       Dalam mendalami aliran sketsa ini, mendiang Liem Keng telah menghabiskan waktu sekitar 30 tahun dalam hidupnya. Pernah mendiang berguru pada 2 pelukis handal yaitu Nurdin B.S dan Iwa Kustiwa sekitar tahun 1959. Awal pembelajaran, mendiang Liem Keng belajar melukis dengan pensil, kemudian dengan cat air dan cat minyak. Pada tahun 1962, mendiang belajar di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Jogjakarta (sekarang Institut Seni Indonesia) selama 2 semester. Dosen - dosen yang waktu itu banyak memberikan inspirasi adalah mendiang Koesnadi dan G. Sidharta. Dosen tersebut yang memperkenalkannya pada seni sketsa. Tahun 1972 mendiang mulai menjajal lukisan sketsa yang menurutnya adalah yang paling sulit. Karena sekali salah dalam menggores, maka harus mengulangi lagi dari awal. Aliran ini yang pada akhirnya menjadi pilihan hidup mendiang sampai akhir hayatnya.

        Salah satu keunikan yang menjadi ciri khas mendiang Liem Keng adalah alat yang digunakannya dalam melukis. Alat yang digunakan oleh para pelukis pada umumnya seperti pena, kuas, pensil tidak digunakanya dengan alasan alat - alat tersebut dianggap tidak dapat mewakili ekspresi garis yang dia inginkan. Alat yang digunakannya cukup sederhana dan mungkin hanya mendiang satu - satunya yang menggunakan alat ini, yaitu botol cuka yang dipotong ujungnya, kemudian diisi dengan tinta Cina.

Biodata

TTL             : Tanggulangin, 3 September 1934
Alamat       : Jln. Undaan Kulon 125 Surabaya
Anak           : Pradiyanto Halim, Iwan Walimban
Pendidikan : SMA Pecindilan 1962, Akademi Seni Rupa Jogja 1964